Mengapa Ide Besar Sulit Diwujudkan?

Mengapa Ide Besar Sulit Diwujudkan?

SriSundari – Setiap perubahan yang terjadi, biasanya selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana, yaitu ‘sebuah ide.’  Ide besar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Misalnya, adanya sebuah keinginan untuk membangun usaha sendiri, dapat menulis buku, menciptakan karya, mengembangkan karier, membuat sesuatu yang belum pernah dibuat orang lain, atau sekadar mengubah hidup menjadi lebih bermakna.

Namun, memiliki ide besar tersebut seringkali hanya angan-angan semata, tidak diwujudkan atau belum berani mewujudkannya.  Padahal, jika ide besar begitu menarik, akan menjadi sebuah tantangan diri untuk dapat mewujudkannya. 

Mengapa banyak orang takut atau gagal mewujudkannya?

Ada beberapa alasan:

Takut gagal

Kegagalan sering dianggap sebagai bukti bahwa seseorang tidak mampu. Padahal, dalam proses menciptakan sesuatu yang baru, kegagalan adalah kemungkinan yang sangat wajar. Ketakutan terhadap kegagalan dapat membuat seseorang memilih tidak melakukan apa pun.

Ironisnya, tidak mencoba juga merupakan bentuk kegagalan—hanya saja kegagalan tersebut terjadi sebelum perjalanan dimulai.

Takut dinilai orang lain

Sebagian orang sebenarnya bukan takut gagal, melainkan takut terlihat gagal. Mereka takut ditertawakan, dikritik, atau dianggap terlalu bermimpi. Akibatnya, ide disimpan sendiri.

Padahal, hampir setiap gagasan baru pada awalnya mungkin terlihat aneh bagi orang lain. Sesuatu yang belum pernah dilakukan memang akan terlihat berbeda.

Terlalu banyak berpikir

Perencanaan memang penting, tetapi terlalu banyak berpikir tanpa tindakan dapat berubah menjadi jebakan.

Seseorang terus mencari informasi, membuat daftar, mengganti strategi, menyempurnakan konsep, lalu kembali merencanakan. Akhirnya, waktu berlalu tetapi tidak ada langkah nyata. Ada saat ketika seseorang harus berhenti mempersiapkan diri dan mulai melakukan.

Tidak sabar melihat hasil

Ide besar membutuhkan waktu. Namun, manusia cenderung menginginkan hasil cepat. Ketika hasil belum terlihat dalam beberapa minggu atau bulan, semangat mulai menurun. Padahal, sebagian hasil membutuhkan proses yang panjang. Ingat, membangun kepercayaan, keterampilan, reputasi, jaringan, dan kualitas membutuhkan waktu.

Tidak siap menghadapi perubahan

Rencana pertama hampir tidak pernah menjadi rencana terakhir.  Ketika keadaan berubah, strategi juga harus berubah. Orang yang terlalu terikat pada rencana awal dapat kesulitan beradaptasi. Padahal, fleksibilitas bukan berarti tidak memiliki prinsip. Fleksibilitas berarti memahami bahwa cara menuju tujuan dapat berubah sesuai keadaan.

Ide Besar Tidak Harus Dimulai dengan Langkah Besar

Ada kesalahpahaman bahwa untuk mewujudkan ide besar seseorang harus langsung melakukan sesuatu yang besar. Padahal, kenyataannya justru sering berlawanan.

Perubahan besar dapat dimulai dari tindakan yang sangat sederhana.  Misalnya, dimulai dari satu halaman, satu percakapan, satu sketsa, satu prototipe, satu pelanggan, satu percobaan, sSatu unggahan, satu jam yang digunakan dengan serius dan permulaan lainnya.

Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat tidak berarti pada awalnya. Namun jika dilakukan secara konsisten dan diarahkan menuju tujuan yang jelas, dampaknya dapat menjadi besar.

Mengapa Ide Besar Sulit Diwujudkan?

Bayangkan jika seseorang yang ingin menulis sebuah buku.  Mungkin orang tersebut merasa bahwa menulis 300 halaman adalah pekerjaan yang sangat berat.  Padahal, jika dirinya fokus pada komitmen menulisnya hanya satu halaman setiap hari dan itu benar-benar dikerjakan setiap hari, pekerjaan menulis 300 halaman akan menjadi lebih mungkin dilakukan.

Begitu pula dengan ide lainnya.  Jangan selalu melihat gunung besar di depan mata.  Lihat langkah kecil yang dapat dilakukan hari ini.

Jangan Menunggu Percaya Diri untuk Memulai

Banyak orang mengira bahwa mereka harus percaya diri terlebih dahulu sebelum memulai.  Padahal, sering kali justru sebaliknya.

Kepercayaan diri tumbuh setelah seseorang mulai melakukan sesuatu.

Ketika berhasil menyelesaikan langkah kecil, seseorang memperoleh bukti bahwa dirinya mampu.  Bukti tersebut meningkatkan kepercayaan diri.  Kemudian ia berani mengambil langkah yang sedikit lebih besar.  Dari sana, kemampuan berkembang dan kepercayaan diri kembali meningkat.  Siklus tersebut terus berulang.

Karena itu, jangan menunggu merasa benar-benar siap.  Mulailah dengan apa yang dimiliki saat ini.  Yakin, setiap kemampuan yang dimiliki dapat dikembangkan.  Begitu juga dengan pengetahuan, dapat dipelajari.  Kesalahan dapat diperbaiki.  Strategi dapat diubah.  Namun kesempatan untuk memulai tidak selalu datang dua kali dalam kondisi yang sama.

Ide Besar Membutuhkan Kesabaran

Ada satu kualitas lain yang sering tidak mendapatkan perhatian cukup, yaitu kesabaran.  Kita hidup dalam zaman yang terbiasa dengan hasil cepat. Informasi datang dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung seketika, dan banyak hal dapat diperoleh hanya dengan beberapa klik.

Akibatnya, kita mudah menganggap bahwa keberhasilan juga seharusnya datang dengan cepat.

Padahal, sesuatu yang benar-benar bernilai biasanya membutuhkan waktu.  Misalnya, hubungan membutuhkan waktu untuk tumbuh. Keahlian membutuhkan waktu untuk terbentuk.  Kepercayaan membutuhkan waktu untuk dibangun.  Bisnis membutuhkan waktu untuk berkembang.  Karya membutuhkan waktu untuk matang. Begitu pula dengan ide besar.

Kesabaran bukan berarti pasif menunggu.  Kesabaran berarti tetap bekerja sambil memahami bahwa hasil membutuhkan proses. Karena pada akhirnya, ide harus berubah menjadi tindakan. Tercetusnya sebuah ide, merupakan awal dari sebuah ‘kemungkinan’.  Namun, ide sendiri tidak dapat mengubah kehidupan, dan yang mengubah kehidupan adalah tindakan.

Seseorang mungkin memiliki gagasan luar biasa tentang bisnis, teknologi, pendidikan, seni, lingkungan, atau kehidupan sosial. Tetapi selama gagasan tersebut hanya berada di dalam pikiran, ia tetap menjadi kemungkinan.

Ketika mulai dituangkan ke dalam tindakan, ide tersebut mendapatkan kesempatan untuk tumbuh. Mungkin hasil pertama tidak sempurna. Mungkin banyak kesalahan. Mungkin orang lain belum memahami. Mungkin hasilnya jauh dari harapan.

Tidak apa-apa!

Sesuatu yang belum sempurna tetapi nyata masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Sedangkan sesuatu yang hanya sempurna dalam pikiran tidak pernah memiliki kesempatan untuk berkembang.(NA)

Tinggalkan Balasan

"Dunia dan isinya adalah media pembelajar oleh karena itu jadilah pembelajar yang baik"