Bagaimana Mengatasi ‘Gangguan Kecemasan Sosial’?

Bagaimana Mengatasi ‘Gangguan Kecemasan Sosial’?

SriSundari – Rasa khawatir atau takut yang ‘berlebihan’ ketika tengah berada dalam situasi keramaian, bahkan timbul rasa cemas yang berlebihan dan takut berinteraksi sehingga keringat pun bercucuran, merupakan bagian dari seseorang yang mengalami ‘gangguan kecemasan sosial.  Dalam istilah kesehatannya disebut social anxiety disorder (SAD).

Social Anxiety Disorder (SAD) atau Gangguan Kecemasan Sosial merupakan sebuah kondisi kesehatan mental, biasanya ditandai dengan rasa ketakutan dan kecemasan yang berlebihan terhadap situasi sosial atau performa di depan orang lain.  Timbul rasa takut dihakimi, dipermalukan, atau dinilai negatif. 

Buntutnya, orang tersebut akan menjadi minder, malu, sungkan berbicara bahkan cenderung menghindar dan sangat mengganggu aktifitas hari-harinya.  Rasa takut berlebihan ini dapat bersifat tidak masuk akal, namun pengidapnya pun juga tidak berdaya untuk mengatasinya. Kondisi ini juga akan mempengaruhi lawan bicaranya atau lingkungan sekitarnya.

Kecemasan sosial berbeda dengan perasaan malu. Jika seseorang mengalami rasa malu, perasaan itu hanya berlangsung dalam jangka waktu yang pendek dan tidak mengganggu aktiftas kehidupannya. Sementara, jika mengidap kecemasan sosial, gangguan tersebut akan terus menerus dirasakan yang lama kelamaan membuat tubuh menjadi lemah. Pengidapnya seringkali menghindar pertemuan dengan banyak orang dan bahkan keluarganya sendiri.

Gangguan kecemasan sosial bukan disebabkan oleh satu hal saja, melainkan interaksi rumit dari kecenderungan bawaan dan peristiwa yang dialami seseorang, membuat mereka sangat takut dinilai negatif oleh orang lain. 

Berdasarkan sejumlah penelitian, penyebab terjadinya gangguan kecemasan sosial disebabkan oleh kombinasi faktor lingkungan, genetika dan biologis.  Misalnya, seseorang yang kerap mengalami tindakan buruk seperti konflik keluarga, intimidasi/bullying/perundungan, hingga pelecehan seksual.  Juga adanya ketidakseimbangan kimia otak (serotonin), serta struktur otak seperti amigdala yang terlalu aktif. Tekanan sosial dan budaya juga bisa memperburuknya sehingga menciptakan rasa takut berlebihan akan penilaian negatif orang lain. 

Ciri-ciri seseorang yang mengalami gangguan kecemasan sosial secara fisik dapat dilihat seperti : bicara terlalu pelan, keringat berlebih, wajah memerah, pusing, postur tubuh yang kaku, perut terasa mual, otot-otot menjadi tegang, jantung berdebar, sesak napas dan lainnya.

Bagaimana mengobati gangguan kecemasan sosial ini?

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengobati seseorang yang mengalami gangguan kecemasan sosial seperti tersebut diatas.  Dengan melakukan konsultasi bersama psikolog atau psikiater dan menjalani terapi arahan mereka. 

Misalnya, mengikuti terapi perilaku kognitif, dimana pengidap gangguan kecemasan sosial ini secara terang – terangan dihadapkan pada situasi yang akan membuat dia merasa takut dan cemas. Beracu hal ini, seorang psikiater akan memberikan solusi terhadap situasi ketakutan yang dihadapi tersebut.  Diharapkan, dengan terapi ini, akan mengurangi rasa takut dan cemas.

Mengkonsumsi obat-obatan adalah langkah terakhir yang dipilih, namun hal itu harus berdasarkan arahan dokter/psikolog yang menangani langsung.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala kecemasan sosial, yaitu :

  • Cari tahu lebih detail apa itu gangguan kecemasan sosial
  • Jangan selalu menanggapi setiap pendapat orang lain tentang diri sendiri
  • Selalu rasional dalam bersikap dan hindari pemikiran tidak realistis
  • Lakukan aktifitas fisik atau olah raga
  • Aktif melakukan banyak kegiatan
  • Berani mencoba hal – hal baru
  • Tekuni hobi yang disukai(NA/Berbagai sumber)

"Dunia dan isinya adalah media pembelajar oleh karena itu jadilah pembelajar yang baik"