SriSundari – Pernahkah secara tiba-tiba merasakan tidak nyaman dalam suatu tempat? Atau secara spontan melakukan sesuatu hal tanpa berfikir Panjang? Atau mengulang kebiasaan padahal sebenarnya hal itu ingin di ubah? Yah, fenomena seperti ini menunjukkan bahwa tidak semua proses mental berlangsung dalam kesadaran penuh.
Dalam psikologi, banyak proses pikiran berlangsung secara otomatis dan berada di luar perhatian sadar. Sebutannya, ‘pikiran bawah sadar’. Dan hal ini sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menggambarkan proses tersebut.
Meskipun istilah ini tidak selalu memiliki definisi ilmiah yang sama dengan penggunaannya dalam bahasa populer, konsep tentang proses mental otomatis memiliki dasar yang kuat dalam penelitian psikologi.
Pikiran bawah sadar merupakan berbagai proses mental yang memengaruhi perilaku tanpa selalu diri kita sadari secara langsung. Otak terus menerima dan mengolah berbagai informasi: mulai dari pengalaman masa lalu, lingkungan, emosi, kebiasaan, serta berbagai pola yang telah dipelajari. Hal-hal tersebutlah yang menjadi proses berlangsung secara otomatis, sehingga diri kita tidak perlu memikirkannya satu per satu.
Misalnya, ketika seseorang sudah terbiasa mengunci pintu rumah, setelah melakukannya berkali-kali, tindakan tersebut dapat dilakukan hampir tanpa perhatian penuh. Secara otomatis, dia sudah terbiasa mengunci pintu rumahnya.
Demikian pula ketika seseorang belajar mengendarai sepeda atau mengetik di papan ketik. Pada awalnya dibutuhkan konsentrasi tinggi, tetapi setelah berulang kali dilakukan, sebagian prosesnya menjadi otomatis.
Jadi, kemampuan manusia untuk melakukan banyak hal secara otomatis merupakan salah satu bentuk efisiensi kerja otak.
Pengalaman Masa Lalu dan Pola Perilaku
Pengalaman masa lalu dapat membentuk pola respons yang kemudian muncul kembali dalam situasi tertentu. Misalnya, ketika seseorang yang pernah mengalami kegagalan saat berbicara di depan umum, dan kembali merasa gugup ketika harus melakukan hal yang sama. Reaksi tersebut tidak selalu muncul karena ia secara sadar mengatakan kepada dirinya, “Saya harus takut.” Bisa jadi tubuh dan pikirannya telah mengasosiasikan situasi tersebut dengan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Hal yang harus dipahami, bahwa pengalaman masa lalu bukanlah takdir. Pola yang sudah terbentuk dapat berubah melalui pengalaman baru, pembelajaran, refleksi, dan latihan. Inilah salah satu alasan mengapa kebiasaan dapat dibentuk kembali.
Kekuatan Kebiasaan
Salah satu pengaruh terbesar proses mental otomatis, dapat dilihat dalam kebiasaan sehari-hari. Sesatu yang dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan, akan berkembang melalui pengulangan. Ketika suatu perilaku dilakukan berulang kali dalam konteks yang sama, otak belajar mengenali pola tersebut. Akibatnya, perilaku yang awalnya membutuhkan usaha sadar dapat menjadi lebih otomatis.
Misalnya, setelah bangun tidur langsung membuka ponsel, saat stress melanda langsung saja mencari camilan tertentu, begitu sampai rumah langsung menyalakan teve, dan sebagainya.
Tanpa disadari, kebiasaan seperti ini dapat terasa seolah-olah terjadi begitu saja. Padahal, Tindakan seperti ini merupakan bagian dari rangkaian pemicu dan respons yang telah dipelajari. Penting bagi kita untuk menyadari pola tersebut dan harus segera dirubah.
Memanfaatkan Kekuatan Proses Mental Otomatis
Kita tidak dapat mengendalikan setiap proses yang berlangsung di dalam pikiran. Tapi, sebaliknya hal itu malah dapat meningkatkan kesadaran terhadap pola yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Caranya:
- Kenali pola yang berulang
- Gunakan pengulangan secara positif
- Berikan jeda sebelum bereaksi
- Perhatikan lingkungan
- Latih kesadaran diri
‘Pikiran Bawah Sadar’ Bukan Kekuatan Magis
Permasalahan ‘pikiran bawah sadar’ kerap dikaitkan dengan berbagai klaim bahwa seseorang dapat ‘memprogram pikiran’-nya untuk mendapatkan apa pun yang diinginkan. Pandangan seperti itu perlu disikapi secara kritis.
Proses mental otomatis memang berperan dalam kebiasaan, perhatian, emosi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan. Namun, tidak ada alasan ilmiah untuk menganggap bahwa sekadar membayangkan sesuatu secara positif, akan secara otomatis membuat semua keinginan menjadi kenyataan.
Padahal, perubahan perilaku biasanya membutuhkan kombinasi antara tujuan yang jelas, tindakan nyata, latihan, lingkungan yang mendukung, evaluasi, serta kemampuan beradaptasi ketika menghadapi kegagalan.
Yang perlu disadari, bahwa kekuatan pikiran bukan terletak pada kemampuan magis untuk mengendalikan dunia, melainkan pada kemampuannya memengaruhi bagaimana kita memperhatikan, menafsirkan, merespons, dan bertindak terhadap dunia.
Pikiran bawah sadar, atau lebih tepatnya berbagai proses mental otomatis, memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan, respons emosional, interpretasi terhadap peristiwa, serta sebagian pengambilan keputusan dapat dipengaruhi oleh proses yang berlangsung tanpa kesadaran penuh.
Dengan memahami proses tersebut, dapat membantu kita mengenali mengapa kita bertindak dengan cara tertentu. Sehingga, dengan menyadari hal tersebut kita masih dapat memiliki kesempatan untuk memilih respons yang berbeda.
Ingat, mungkin kita tidak dapat mengendalikan setiap pikiran yang muncul, tetapi kita dapat belajar mengamati pikiran tersebut, memahami polanya, dan menentukan tindakan yang lebih sesuai dengan tujuan hidup kita.(dari berbagai sumber)








