Menciptakan Energi Bahagia

Menciptakan Energi Bahagia

“Karena Bahagia Tidak Selalu Datang dengan Sendirinya…”

SriSundari – Terkadang, seseorang mengalami hari-hari terasa begitu ringan. Saat bangun pagi perasaan tenang, pekerjaan berjalan lancar, orang-orang di sekitar terasa menyenangkan, dan hal-hal kecil pun mampu membuat kita tersenyum.

Namun ada pula hari ketika semuanya terasa sebaliknya. Bangun tidur sudah merasa lelah. Pikiran dipenuhi kekhawatiran. Pekerjaan terasa berat, hubungan dengan orang lain tidak selalu berjalan sesuai harapan, dan masalah kecil pun terasa seperti sesuatu yang sangat besar.

Saat perasaan tak tentu arah ini tengah melanda, kita sering menunggu kebahagiaan datang. Menunggu keadaan membaik. Menunggu masalah selesai. Menunggu seseorang membuat kita tersenyum. Menunggu hidup menjadi lebih mudah.

Padahal, kebahagiaan tidak selalu sesuatu yang harus kita tunggu.

Ciptakanlah kebahagiaan

Menciptakan kebahagiaan bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia, ketika sedang menghadapi masalah. Bukan pula berarti setiap kesedihan harus segera dihilangkan. Menciptakan energi bahagia justru berarti belajar membangun ruang di dalam diri, agar diri kita tetap memiliki alasan untuk menjalani hari, meskipun kehidupan belum sempurna.

Bahagia bukan berarti hidup tanpa masalah

Salah satu kesalahpahaman tentang kebahagiaan adalah anggapan bahwa orang bahagia adalah orang yang hidupnya selalu baik-baik saja.  Padahal tidak demikian.  Orang yang bahagia juga bisa kecewa, bisa menangis, bisa gagal, bisa merasa takut, kehilangan semangat, bahkan mengalami hari yang sangat buruk.

Perbedaannya adalah mereka tidak membiarkan satu masalah menentukan keseluruhan hidupnya.  Mereka memahami bahwa kesedihan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan, bukan seluruh cerita.

Karena itu, menciptakan energi bahagia bukan berarti memaksa diri untuk selalu tersenyum.  Katakan pada diri sendiri, “Hari ini mungkin tidak mudah, tetapi masih ada sesuatu yang bisa aku syukuri.”  Kalimat sederhana itu dapat menjadi awal dari perubahan cara kita memandang kehidupan.

Energi Bahagia Berawal dari Pikiran

Apa yang kita pikirkan sepanjang hari akan memengaruhi bagaimana kita merasakan kehidupan. Jika pikiran terus dipenuhi kalimat seperti, “Aku tidak cukup baik,” “Hidupku selalu sulit,” “Aku tidak akan berhasil,” maka tubuh dan emosi pun ikut merespons.

Sebaliknya, ketika kita mulai mengganti dialog negatif dengan kalimat yang lebih realistis dan penuh harapan, perlahan suasana batin dapat berubah.  Misalnya pernyataan “Aku harus selalu kuat.”  Diganti menjadi “Aku boleh lelah, tetapi aku akan mencoba lagi ketika sudah siap.”

Atau pernyataan “Aku gagal, berarti aku tidak mampu.” menjadi “Aku gagal kali ini, tetapi aku masih bisa belajar dan memperbaikinya.”

Ingat, kebahagiaan sering kali tumbuh dari cara kita berbicara kepada diri sendiri.

Menciptakan Energi Bahagia

Jangan menunggu hal besar untuk merasa bahagia

Kita sering mengira kebahagiaan membutuhkan sesuatu yang besar.  Misalnya, mendapatkan pekerjaan impian, memiliki banyak uang, membeli rumah, pergi berlibur ke tempat yang indah, dan lainnya.

Tentu saja pencapaian tersebut dapat memberikan rasa senang. Namun kebahagiaan yang hanya bergantung pada pencapaian besar akan membuat kita terus merasa kurang. Setelah mendapatkan satu hal, kita menginginkan hal berikutnya. Akhirnya, kita hidup dalam siklus mengejar sesuatu tanpa pernah benar-benar menikmati apa yang sudah dimiliki.

Untuk mendapatkan energi bahagia, dapat dibangun dari hal-hal yang sangat sederhana. Tidak harus selalu menunggu sesuatu yang besar.  Misalnya, menikmati secangkir kopi hangat di pagi hari, berjalan sebentar menikmati udara segar, mendengarkan lagu favorit dan lainnya.

Ciptakan lingkungan yang memberikan energi positif

Kebahagiaan juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita berada.  Jika kita selalu berada di tengah-tengah orang yang selalu mengeluh, merendahkan, menyebarkan kebencian, atau membuat kita merasa tidak pernah cukup dapat menguras energi emosional, energi negative akan merasuki diri kita.

Namun sebaliknya, jika berada di sekitar orang yang menghargai, mendukung, mendengarkan, dan memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri, hal ini dapat membuat hidup terasa lebih ringan dan aura positif pun akan mewarnai pikiran dan tingkah laku kita.

Bukan berarti kita harus menjauhi semua orang yang sedang mengalami masa sulit. Kita semua pasti pernah menjadi orang yang membutuhkan dukungan. Tapi, penting untuk mengenali hubungan mana yang membuat kita bertumbuh dan hubungan mana yang terus-menerus menguras diri.

Menjaga batas bukan berarti egois. Kadang, menjaga kesehatan pikiran berarti berani berkata: “Aku membutuhkan ruang untuk diriku sendiri.”

Berhenti membandingkan perjalanan hidup

Jangan selalu membanding-bandingkan apa yang orang lain miliki dengan yang kita miliki. Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah perbandingan.

Kita tidak tahu perjuangan yang mereka sembunyikan. Untuk itu, fokuslah pada perjalanan sendiri. Karena setiap orang memiliki waktu, keadaan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.

Bahagia adalah energi yang perlu dirawat

Kebahagiaan bukan sesuatu yang sekali ditemukan kemudian akan tinggal selamanya.  Kebahagiaan itu perlu dirawat. Seperti tanaman yang membutuhkan air, kebahagiaan juga membutuhkan perhatian.

Kita perlu menjaga pikiran, memilih lingkungan, memberikan waktu untuk diri sendiri, menghargai hal-hal kecil, menerima emosi, dan belajar melepaskan sesuatu yang memang sudah tidak bisa kita kendalikan.

Ada hari ketika energi bahagia kita tinggi. Ada hari ketika energi itu hampir tidak terasa. Jangan disesali, nikmati dan rasakan apa yang terjadi.

Kita tidak harus bahagia setiap saat. Yang penting adalah tidak berhenti menciptakan ruang bagi kebahagiaan untuk kembali.(NA)

Tinggalkan Balasan

"Dunia dan isinya adalah media pembelajar oleh karena itu jadilah pembelajar yang baik"