Apa itu afirmasi? Afirmasi adalah ungkapan/pernyataan positif yang sengaja dan secara sadar diucapkan dengan tujuan untuk menanamkan pernyatan tersebut dalam pikiran, sehingga dapat membangun pola pikir, keyakinan dan sikap yang lebih konstruktif.
Afirmasi merupakan salah satu cara untuk membangun dialog positif dengan diri sendiri. Dialog internal ini, secara tidak sadar akan membentuk persepsi, tindakan, hingga kenyataan hidup yang dijalani. Di sinilah kekuatan afirmasi positif akan mengambil peran sebagai alat, yang akan mengarahkan alur cara berpikir. Afirmasi juga dianggap sebagai seni berbicara pada diri sendiri yang dapat memprogram otak untuk bertindak lebih baik dan sukses.
Afirmasi bukan sekadar mengucapkan kata-kata positif berulang-ulang, bukan sekadar kalimat motivator atau kebiasaan ‘pikir positif’ tanpa dasar. Lebih dari itu, afirmasi merupakan salah satu bentuk latihan untuk mengarahkan perhatian kita pada cara berpikir yang lebih sehat dan realistis. Secara ilmiah, neuroplastisitas—kemampuan otak untuk membentuk dan merestrukturisasi jalur saraf—menjelaskan bahwa pengulangan kata-kata tertentu dapat meretas pola pikir lama dan menggantinya dengan keyakinan baru.
Cara Bekerja Afirmasi
Banyak dalam pikiran seseorang yang selalu menilai negative terhadap berbagai hal, terutama penilaian terhadap diri sendiri. Misalnya, “Saya gagal!”, “Saya tidak bisa!”, “Saya tidak cocok!” dan lainnya.
Pikiran-pikiran seperti ini menjadi bayang-bayang dalam diri sendiri yang memupuk rasa tidak percaya diri, pesimis dan menjadi lemah dalam menghadapi berbagai situasi. Untuk itu, bangunlah kebiasaan berbicara kepada diri sendiri dengan lebih positif, sehingga dapat membantu menciptakan perspektif yang lebih konstruktif. Membangun dialog positif dengan diri sendiri salah satunya melalui afirmasi.
Afirmasi postif, yaitu pernyataan positif yang diucapkan secara berulang-ulang untuk menantang dan menyabotase pikiran-pikiran negatif. Ketika diri kita sering mengucapkannya, otak kita pun otomatis mulai mempercayainya sebagai kenyataan. Seperti, “Saya pasti berhasil!”, “Saya bisa!”, “Saya cocok!”, dan sebagainya.
Dengan membangun kebiasaan berbicara kepada diri sendiri dengan lebih positif, dapat membantu menciptakan perspektif yang lebih konstruktif, memprogram otak untuk memerintah pikiran dan sikap seseorang untuk menjadi lebih optimistis.(NA)








