Ketika Hubungan dengan Orang Lain Terus Bermasalah

Ketika Hubungan dengan Orang Lain Terus Bermasalah

SriSundari – Punya masalah dengan orang-orang di sekitar kita, baik itu masalah dengan pasangan, anggota keluarga, teman atau pun rekan kerja sangat tidak mengenakkan.  Apalagi masalah atau konflik tersebut berulang kali terjadi.

Mungkin diri kita sudah berusaha bersikap baik, mengalah, memahami perasaan orang lain, atau menghindari konflik. Namun, entah mengapa, kesalahpahaman tetap terjadi, pertengkaran terus berulang, dan hubungan yang seharusnya memberikan kenyamanan justru menjadi sumber tekanan emosional.

Konflik terjadi terkadang bukan hanya disebabkan oleh perbedaan pendapat. Dalam perspektif psikologi, hubungan interpersonal yang terus bermasalah tidak selalu disebabkan oleh satu orang. Relasi melibatkan dua individu atau lebih yang memiliki kepribadian, pengalaman masa lalu, kebutuhan emosional, cara berkomunikasi, dan harapan yang berbeda. Ketika perbedaan tersebut tidak dipahami atau dikelola dengan baik, konflik dapat menjadi pola yang berulang.

Oleh karena itu, mengatasi hubungan yang bermasalah bukan sekadar tentang membuat orang lain berubah. Proses ini juga membutuhkan keberanian untuk memahami diri sendiri, mengenali pola interaksi, mengembangkan keterampilan emosional, dan menentukan batasan yang sehat.

Banyak factor yang menjadi penyebab tumbuhnya konflik :

  1. Sulit mengendalikan emosi
  2. Pengalaman masa lalu yang terus mengganggu
  3. Aktifitas sehari-hari mulai terganggu
  4. Merasa tidak memiliki teman untuk bercerita

Mengelola emosi bukan berarti menekan perasaan atau berpura-pura tidak terluka. Seseorang tetap berhak merasa marah dan kecewa. Namun, yang perlu dipelajari adalah bagaimana menyampaikan rasa kecewa dan marah tersebut tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain.

Seringkali seseorang terdorong untuk segera membalas perkataan orang lain ketika dirinya merasa terluka, marah, kecewa, atau tidak dihargai.  Dalam kondisi emosional yang tinggi seperti ini, kemampuan berpikir jernih dan mempertimbangkan konsekuensi dapat berkurang.  Akibatnya, persoalan kecil dapat berkembang menjadi pertengkaran besar. Dan seringkali tanpa disadari, mungkin mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, mengungkit kesalahan masa lalu, atau mengambil keputusan yang sebenarnya tidak diinginkan.

Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam membangun hubungan sehat adalah regulasi emosi, yaitu kemampuan mengenali dan mengelola emosi agar kita dapat merespon situasi secara lebih tepat.

Jika sudah terlalu sulit untuk mengontrol emosi dan kerap terjadi kesalahpahaman yang berujung menjadi masalah berat, konseling dapat menyediakan ruang percakapan yang terarah dan profesional. Seseorang dapat membicarakan perasaannya, mengeksplorasi persoalan yang sedang dihadapi, dan mempertimbangkan berbagai pilihan tanpa harus segera mengambil keputusan.

Begitu juga dengan seseorang yang berusaha melupakan pengalaman namun justru merasa semakin terbebani ketika sebuah kenangan yang cukup traumatic muncul kembali. Ada pula yang menjadi sulit mempercayai orang lain, merasa selalu terancam, atau menghindari situasi tertentu karena mengingatkannya pada kejadian masa lalu.

Melalui konseling atau terapi, seseorang dapat belajar mengenali pemicu emosinya, memahami respons yang muncul, serta mengembangkan strategi untuk menghadapi situasi sulit dengan lebih tenang.  Hal ini akan membantu seseorang memahami dan mengelolanya secara sehat dari segala emosi dan perasaan yang tidak nyaman yang berlebihan.

Konselor dapat membantu seseorang memahami sudut pandang yang berbeda, menyampaikan kebutuhan secara lebih sehat, menetapkan batasan pribadi, dan mencari cara menyelesaikan konflik dengan sebaik-baiknya tanpa memperburuk keadaan.

Melalui konseling, seseorang dapat dengan leluasa membicarakan perasaannya, mengeksplorasi persoalan yang sedang dihadapi serta mempertimbangkan berbagai pilihan tanpa harus segera mengambil keputusan.

Ingat, konselor atau terapis bukan orang yang bertugas menentukan seluruh pilihan hidup seseorang. Konselor dapat membantu klien memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya serta mengembangkan kemampuan untuk mengambil keputusan secara mandiri.

Mulailah bergerak, ketika pikiran, perasaan, atau masalah kehidupan mulai mengganggu keseharian, dan segera mencari bantuan profesional. Ini merupakan langkah yang layak dipertimbangkan, karena merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan merawat kesehatan fisik.(NA)

Tinggalkan Balasan

"Dunia dan isinya adalah media pembelajar oleh karena itu jadilah pembelajar yang baik"