Bagaimana Mendapatkan Bahagia?

Bagaimana Mendapatkan Bahagia?

“Bahagia itu sederhana, sesederhana mensyukuri nikmat yang kita dapat saat ini.”(Sri Sundari)

SriSundari – Bahagia tidak selalu datang dari sesuatu yang besar.  Terkadang kebahagiaan itu tersembunyi dalam tegukan secangkir kopi hangat, segarnya udara pagi, serunya percakapan sederhana, atau rasa syukur karena masih dikasih kesempatan oleh Sang Pencipta dalam merasakan perjalanan hari ini.

Banyak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengejar kebahagiaan. Sebagian diantara mereka percaya bahwa bahagia akan datang ketika memiliki cukup uang. Ada juga yang merasa akan bahagia ketika memiliki rumah impian, pekerjaan yang mapan, pasangan yang tepat, keluarga yang sempurna, bahkan ketika semua masalah dalam hidup akhirnya selesai.

Yah, tidak ada yang salah dengan memiliki keinginan dan cita-cita tersebut. Namun, tanpa disadari, terkadang seseorang menempatkan kebahagiaan terlalu jauh di depan. Seolah-olah berkata kepada diri sendiri, “Nanti saya akan bahagia kalau sudah mendapatkan ini.”

Akibatnya, kehidupan yang sedang dijalani hari ini justru terlewat begitu saja. Padahal, suatu kebahagiaan tidak selalu membutuhkan pencapaian yang luar biasa. Ada bentuk kebahagiaan yang jauh lebih sederhana, lebih dekat, dan sebenarnya bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahagia sederhana bukan berarti hidup tanpa masalah. Bahagia sederhana adalah kemampuan untuk menemukan sesuatu yang layak disyukuri, dinikmati, dan dihargai meskipun kehidupan belum berjalan sempurna, dan….hati tetap merasa bahagia.

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang kebahagiaan adalah anggapan bahwa seseorang baru bisa bahagia ketika seluruh persoalannya selesai.  Persoalan seperti apa yang selesai tuntas tanpa ada ujungnya?

Menunggu pekerjaan lebih baik, menunggu kondisi keuangan membaik, menunggu hubungan menjadi sempurna, menunggu memiliki rumah sendiri, menunggu anak-anak tumbuh, menunggu tubuh lebih sehat, menunggu semua keinginan terpenuhi?

Sementara, dalam kehidupan di dunia, seseorang hampir tidak pernah benar-benar bebas dari persoalan.  Ketika satu masalah selesai, persoalan lain muncul. Ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan, tidak jarang muncul keinginan baru lainnya. Jika kebahagiaan selalu ditempatkan setelah semua persoalan selesai, kita bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk menunggu.

Karena itu, bahagia sederhana bukan tentang menunggu kehidupan menjadi sempurna. Bahagia sederhana adalah belajar mengatakan: “Hidup saya mungkin belum sempurna, namun masih ada hal-hal baik lainnya yang bisa saya nikmati hari ini.”

Kalimat sederhana tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupannya.  Belajar menikmati hal-hal kecil yang dirasakan saat itu. Karena sesungguhnya, kebahagiaan sering kali datang dalam bentuk yang sangat sederhana.

Karena terbiasa mengejar sesuatu yang besar, sampai lupa bahwa kehidupan sebenarnya tersusun dari banyak momen kecil.  Dan sebagian besar kehidupan berlangsung bukan dalam peristiwa-peristiwa besar, melainkan dalam rutinitas sederhana yang sering dianggap biasa.

Karena itu, salah satu cara menemukan kebahagiaan adalah berhenti sejenak dan benar-benar hadir dalam momen yang sedang dijalani.  Misalnya, merasakan langkah kaki yang ringan ketika berjalan kaki, mengunyah makanan dengan tenang dan merasakan lezatnya makanan di mulut, mendengarkan sungguh-sungguh ketika berbicara dengan orang yang disayangi, dan lainnya.

Awalilah kebahagiaan dengan rasa syukur.  Syukur bukan berarti menganggap semua masalah sebagai sesuatu yang baik. Bersyukur juga bukan berarti kita tidak boleh mengeluh, sedih, kecewa, atau ingin memperbaiki kehidupan.  Rasa syukurlebih kepada kemampuan untuk menyadari bahwa di tengah berbagai kekurangan, masih ada sesuatu yang kita miliki.

Mungkin hari ini pekerjaan belum sesuai harapan, tetapi masih ada kesempatan untuk mencoba. Mungkin kondisi keuangan belum seperti yang diinginkan, tetapi masih ada sesuatu yang bisa dinikmati. Mungkin kehidupan sedang menghadapi masalah, tetapi masih ada orang yang bersedia mendengarkan.

Dengan membiasakan diri melihat apa yang masih dimiliki, tanpa disadari perhatian pun tidak hanya tertuju pada apa yang hilang, tapi rasa syukur karena masih memiliki hal lainnya.(NA)

Tinggalkan Balasan

"Dunia dan isinya adalah media pembelajar oleh karena itu jadilah pembelajar yang baik"