Pemulihan Bertahap Desa Adat Sade

Pemulihan Bertahap Desa Adat Sade

SriSundari – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti menggelar rapat koordinasi bersama Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal; Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri; Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda); Politeknik Pariwisata Lombok; mitra; serta para pemangku kepentingan dan unsur ekosistem pariwisata.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk menyelaraskan langkah dan memperkuat sinergi, agar proses pemulihan Desa Adat Sade dapat berlangsung secara terkoordinasi, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang.

Kementerian Pariwisata akan mengambil bagian dan membersamai proses pemulihan sesuai dengan kewenangan yang dimiliki, khususnya dalam pemulihan ekosistem pariwisata, penguatan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat, serta membangun kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Menpar Widiyanti menekankan bahwa pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya berorientasi pada pembangunan kembali bangunan yang terdampak kebakaran. Masyarakat harus menjadi bagian utama dalam seluruh proses pemulihan agar kehidupan sosial dan ekonomi dapat kembali berjalan sekaligus memastikan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Sade tetap terjaga.

Dalam pertemuan tersebut, terdapat sejumlah catatan penting terkait pembangunan kembali Desa Adat Sade. Adapun data sementara mengenai keluarga dan bangunan terdampak berdasarkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten, sebanyak 75 unit Rumah Adat, 69 unit Artshop, 8 unit Lumbung Alang, 1 unit Menara Pantau, 4 Berugak Sekenam, 6 Berugak Sakepat, 1 unit Bale Beleq (Museum), dan sejumlah fasilitas lainnya hangus terbakar habis.

Pemulihan Bertahap Desa Adat Sade

Untuk Rencana Jangka Panjang, terdapat empat langkah utama yang telah dibahas di dalam rakor tersebut.

Pertama, Menpar Widiyanti menginisiasi untuk membentuk tim kerja lintas Pemerintah Pusat melalui Kementerian dan Lembaga, Pemerintah Daerah serta Mitra dan melibatkan masyakat adat, untuk mendata secara terperinci masyarakat dan pekerja yang terdampak agar penyaluran bantuan dapat lebih terarah.

Kedua, perencanaan untuk membuka satu akun donasi sehingga pengumpulan dana dapat dilakukan melalui satu pintu untuk mendukung rekonstruksi desa. Ketersediaan bahan baku untuk membangun kembali rumah tradisional juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat adat saat ini.

Ketiga, penyusunan Master Plan Rekonstruksi bersama para pemangku kepentingan dengan melibatkan masyarakat agar pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan desa serta tetap mempertahankan karakter dan identitas Sade.

Keempat, Pembangunan Rumah Layak Tinggal. Hal ini pernah dilakukan bersama Pemerintah Daerah dan Kementerian Pariwisata, yakni, membangun 40 unit Rumah Layak Tinggal bagi Masyarakat Adat Sade.

Selain rencana jangka panjang, dalam Rakor ini juga menetapkan empat langkah jangka pendek dan akan ditindaklanjuti secara bertahap dan menyeluruh.

Pemulihan Bertahap Desa Adat Sade

Pertama, penyediaan dan distribusi stock makanan untuk para korban terdampak.

Kedua, pembuatan Dapur Umum dan bantuan logistik, dimana Kementerian Pariwisata melalui Politeknik Pariwisata Lombok, bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, TNI/POLRI, dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Ketiga, Program pemberdayaan bagi masyarakat dan pelaku pariwisata harus terus dilanjutkan dan diperkuat. Program pemberdayaan seperti: Trauma Healing bagi korban terdampak khususnya anak kecil, Memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek) secara berkala kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan warga desa terkait prosedur Standard Operating Procedure (SOP) tanggap darurat dan evakuasi wisatawan.

Selain itu, perlunya penguatan pendampingan pembangunan usaha bagi masyarakat adat Sade dengan dukungan lintas sektor, seperti modal bekerja para pelaku usaha pariwisata, fasilitas pendukung alat menenun, dan realokasi tempat sementara untuk menghidupkan aktivitas ekonomi bagi masyarakat adat Sade secara bertahap.

Keempat, rencana pembangunan museum sementara dan masjid. Museum diharapkan menjadi ruang bagi wisatawan untuk mengenal secara langsung dan autentik sejarah, nilai budaya Desa Adat Sade, serta kehidupan masyarakat SukuSasak. Sementara itu, masjid akan menjadi sarana ibadah bagi masyarakat adat sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan Muslim yang berkunjung. Pembangunan ditargetkan dapat diselesaikan menjelang peak season, khususnya momentum penyelenggaraan MotoGP di Mandalika.

Pemulihan Bertahap Desa Adat Sade

Pemulihan Desa Adat Sade juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pariwisata berbasis masyarakat. Keberadaan masyarakat beserta tradisi, pengetahuan lokal, dan autentisitas kehidupan desa merupakan kekuatan utama yang menjadikan Sade memiliki nilai penting dalam pariwisata Lombok.

Kementerian Pariwisata juga memberikan bantuan sejumlah alat tenun yang dibutuhkan kepada masyarakat Desa Adat Sade. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas ekonomi sekaligus mempertahankan perannya sebagai penjaga tradisi dan kearifan lokal Sasak.(NA)

Tinggalkan Balasan

"Dunia dan isinya adalah media pembelajar oleh karena itu jadilah pembelajar yang baik"